Rabu, 21 September 2016

Tugas II




          sistem pakar diagnosa penyakit diabetes militus menguanakan metode forward chaining




I.I    Latar Belakang coeg

           Setiap tahun, tren jumlah penderita diabetes kian meningkat. Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO), indonesia kini menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes, pada tahun 2006, jumlah penderita Diabetes Militus (DM) di indonesia mencapai14 juta orang. Dari jumlah itu, baru 50% yang sadar mengidap dan 30% di antaranya melakukan pengobatan secara teratur, menurut beberapa penelitian epidemilogi, prevalensi diabetes di indonesia berkisar 1,5 sampai 2,3 kecuali manado yang cenderung lebih tinggi yaitu 6,1% (wahdah 2011).
          
         Klasifikasi etiologis Diabetes Militus menurut ADA 2005 yaitu Diabetes Militus tipe 1, Diabetes Militus tipe 2, Diabetes Militus tipe lain dan Diabetes Militus kehamilan (gastional). Di indonesia jumlah keseluruhan khusus penyakit diabetes militus tipe 1 belum diketahui secara pasti. Tipe ini jarang ditemui, sebabkan karena indonesia terletak di garis khatulistiwa dan faktor genetik yang tidak mendukung, lain halnya pada Diabetes Militus tipe 2 yang meliputi lebih dari 90% jumlah populasi penderita diabetes – untuk selanjutnya disebut diabetes – faktor lingkungan sangat berpearan penting (sedoyo 2006). Diabetes Militus ini kalau dibiarkan akan menjadi ganguan kesehatan yang serius.
        
          Peningkatan jumlah diabetes disebabkan oleh keterlambatan pengobatan dan juga dikarenakan pola hidup yang kurang sehat, oleh karena itu diperlukan suatu sistem atau alat bantu untuk mendiagniosa penderita penyakit Diabetes Militus atau tidak dengan metode forward cleining sistem yang digunakan sebagai alat bantu adalahsistem pakar.
      
          Dalam hal ini sistem pakar yang merupakan salah satu teknik kecerdasan buatan yang dapat menirukan proses penalaran manusia menawarkan hasil yang lebih special untuk dimanfaatkan, karena sistem pakar, karena sistem pakar berfungsi secara konsisten seorang pakar manusia yang menawarkan nasihat kepada pemakai dan menemukan solusi terhadadap berbagai macam masalahpenyakit diabetes militus. Tujuan pengembangan sistem ini sebenarnya bukan untuk mengantikan peran manusia tapi agar mempermudah kerja manusia kedalam bentuk sistem, sehingga digunakan oleh msyarakat dalam mendiagnosa penyakit diabetes militus.
           
Dengan mengunakan sistem pakar diharapkan dapat mempermudah dalam mendiagnosa penyakit diabetes. Dari uraian di atas , maka penulis tertarik untuk mengembangkan sebuah aplikasi “sistem pakar diagnosa penyakit diabetes militus menguanakan metode forward chaining” sebagai suatu alternatif solusi untuk mengatasi masalah keterlambatan diagnosa penyakit Diabetes Militus
Tanda penyakit diabetes militus

      Tanda-tanda klasik dari diabetes yang tidak diobati adalah hilangnya berat badan, polyuria (sering berkemih), polyhagia (sering haus), dan polyphagia (sering lapar) Gejala-gejalanya dapat berkembang sangat cepat (beberapa minggu atau bulan saja) pada diabetes type 1, sementara pada diabetes type 2 biasanya berkembang jauh lebih lambat dan mungkin tanpa gejala sama sekali atau tidak jelas.
Beberapa tanda-tanda lainnya dan gejala-gejalanya dapat menunjukkan adanya diabetes, meskipun hal ini tidak spesifik untuk diabetes. Mereka adalah pandangan yang kabur, sakit kepala, fatigue  penyembuhan luka yang lambat, dan gatal-gatal. Tingginya tingkat glukosa darah yang lama dapat menyebabkan penyerapan glukosa pada lensa mata, yang menyebabkan perubahan bentuk, dan perubahan ketajaman penglihatan. Sejumlah gatal-gatal karena diabetes dikenal.



Klasifikasi

            mengklasifikasikan bentuk diabetes melitus berdasarkan perawatan dan simtoma

Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidesis hingga rusaknya sel beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes melitus dengan patogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini.

  1. Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom resistansi insulin

Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose tolerance, GIGT dan gestationaldiabetesmellitus(GDM)
dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi:

  1. Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus defisiensi peptida-C.
  2. Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh.
  3. Not insulin requiring diabetes.

      Kelas empat pada tahap klinis serupa dengan klasifikasi IDDM (bahasa Inggris: insulin-dependent diabetes mellitus), sedang tahap kelima dan keenam merupakan anggota klasifikasi NIDDM (bahasa Inggris: non insulin-dependent diabetes mellitus). IDDM dan NIDDM merupakan klasifikasi yang tercantum pada International Nomenclature of Diseases pada tahun 1991 dan revisi ke-10 International Classification of Diseases pada tahun 1992.

Klasifikasi Malnutrion-related diabetes mellitus, MRDM, tidak lagi digunakan oleh karena, walaupun malnutrisi dapat memengaruhi ekspresi beberapa tipe diabetes, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa malnutrisi atau defisiensi protein dapat menyebabkan diabetes. Subtipe MRDM; Protein-deficient pancreatic diabetes mellitus, PDPDM, PDPD, PDDM, masih dianggap sebagai bentuk malnutrisi yang diinduksi oleh diabetes melitus dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Sedangkan subtipe lain, Fibrocalculous pancreatic diabetes, FCPD, diklasifikasikan sebagai penyakit pankreas eksokrin pada lintasan fibrocalculous pancreatopathy yang menginduksi diabetes melitus.

Klasifikasi Impaired Glucose Tolerance, IGT, kini didefinisikan sebagai tahap dari cacat regulasi glukosa, sebagaimana dapat diamati pada seluruh tipe kelainan hiperglisemis. Namun tidak lagi dianggap sebagai diabetes.

Klasifikasi Impaired Fasting Glycaemia, IFG, diperkenalkan sebagai simtoma rasio gula darah puasa yang lebih tinggi dari batas atas rentang normalnya, tetapi masih di bawah rasio yang ditetapkan sebagai dasar diagnosis diabetes.


 Diagnosis

Penyaringan penyakit diabetes

Jika salah satu faktor risiko diabetes di bawah ini terpenuhi, maka harus dilakukan Penyaringan penyakit dibetes dengan melakukan Tes Gula Darah Puasa dan Tes Gula Darah 2 jam setelah makan. Mengingat melakukan 2 Tes di atas di Laboratorium Klinik biayanya sama besar dengan Tes Toleransi Glukosa, maka sebaiknya langsung saja melakukan Tes Toleransi Glukosa.

Faktor risiko diabetes:[1]

  • Kelompok usia dewasa tua (45 tahun ke atas).
  • Kegemukan {BB (kg) > 120% BB idaman atau IMT > 27 (kg/m2)} IMT atau Indeks Masa Tubuh = Berat Badan (Kg) dibagi Tinggi Badan (meter) dibagi lagi dengan Tinggi Badan (cm), misalnya Berat Badan 86 kg dan Tinggi Badan 1,75meter, maka IMT = 86/1,75/1,75 = 28 > 27, berarti memiliki faktor risiko diabetes.
  • Tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg).
  • Riwayat keluarga DM, ayah atau ibu atau saudara kandung ada yang terkena penyakit diabetes.
  • Riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram.
  • Riwayat DM pada kehamilan.
  • Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl.
  • Pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (glukosa darah puasa terganggu).

Banyak orang berpendapat, bahwa orang kurus tidak dapat terkena diabetes, hal ini tidak benar, terutama orang kurus dengan perut buncit yang disebut obesitas sentral. Menurut Public Health England 2014, seseorang dengan perut buncit apakah kurus apakah gemuk dengan lingkar pinggang melebihi 80 centimeter bagi wanita dan melebihi 90 centimeter bagi pria memiliki tingkat risiko 7 kali lebih besar terkena diabetes daripada yang tidak buncit. Buncit berarti kelebihan asupan makanan dan mengundang terjadinya diabetes.[2]



Pengendalian penyakit diabetes

Ada 4 pilar Pengendalian penyakit diabetes:[1]

  • Edukasi, pasien harus tahu bahwa penyakit diabetes tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan dan pengendalian harus dilakukan seumur hidup
  • Makanan, jika input/masukan buruk, maka output/hasil akan buruk, demikian pula bila makan melebihi diet yang ditentukan, maka kadar gula darah akan meningkat
  • Olahraga, diperlukan untuk membakar kadar gula berlebih yang ada dalam darah [2]
  • Obat, hanya jika diperlukan, tetapi bila kadar gula darah telah turun dengan meminum obat, bukan berarti telah sembuh, tetapi harus konsultasi dengan dokter apakah tetap meminum obat dengan kadar yang tetap atau meminum obat yang sama dengan kadar yang diturunkan atau minum obat yang lain

Dalam berdiet pasien harus tahu tentang indeks glikemik, yaitu naiknya kadar gula darah setelah makan makanan tertentu seberat 100 gram dibandingkan dengan minum 100 gram glukosa di mana kenaikan gula darah akibat minum glukosa tersebut dinilai 100 dan makanan tersebut di bawah 100, semakin jauh dari 100 dan mendekati nol semakin baik, artinya makanan tersebut memiliki indeks glikemik rendah dan dicerna (sangat) lambat dan kenaikan kadar gula darahnya tidak cepat. Tetapi yang terbaik adalah mengetahui muatan glikemik, yakni berapa banyak porsi hidrat arang (zat tepung) yang terkandung di sejumlah makanan tersebut dikalikan dengan indeks glikemiknya dan kemudian dibagi 100. Jadi kalau makan makanan dengan indeks glikemik rendah, tetapi dalam porsi yang besar, maka muatan glikemiknya menjadi tinggi dan tentu tidak baik bagi penderita diabetes.

Pasien yang cukup terkendali dengan pengaturan makan saja tidak mengalami kesulitan kalau berpuasa. Pasien yang cukup terkendali dengan obat dosis tunggal juga tidak mengalami kesulitan untuk berpuasa. Obat diberikan pada saat berbuka puasa. Untuk yang terkendali dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dosis tinggi, obat diberikan dengan dosis sebelum berbuka lebih besar daripada dosis sahur. Untuk yang memakai insulin, dipakai insulin jangka menengah yang diberikan saat berbuka saja. Sedangkan pasien yang harus menggunakan insulin (DMTI) dosis ganda, dianjurkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan.





 Hereditas dan Gaya hidup
    Diabetes melitus diturunkan, terutama bila kedua orang tuanya penderita diabetes berat, tetapi mulai munculnya Diabetes melitus tipe 2 lebih dipengaruhi oleh Gaya Hidup yang buruk, bahkan pada pasangan yang salah satunya adalah penderita Diabetes Melitus tipe 2, maka pasangannya yang sebelumnya tidak menderita Diabetes melitus tipe 2 pada akhirnya 26 persen dapat juga mengidapnya, karena mengikuti atau terpengaruh oleh Gaya Hidup pasangannya. Lelaki seringkali telat terdeteksi menderita penyakit ini, karena setelah Tahap Anak lelaki jarang mendapatkan Pemeriksaan Laboratorum Klinik, sedangkan wanita setidak-tidaknya pada saat hamil sering memeriksakan dirinya ke Dokter dan juga Laboratorium Klinik.[4]


Riset

    Insulin yang dihirup telah dikembangkan.[5] Produk awal telah ditarik, karena efek-efek sampingnya.[5] Afrezza, buatan MannKind Corporation, telah disetujui oleh FDA (BPOMnya Amerika Serikat) untuk dijual secara umum pada bulan Juni 2014 Terdapat beberapa keuntungan dari insulin hirup tersebut: nyaman, mudah digunakan dan sebagai alternatif dari penderita yang tak dapat menggunakan insulin suntik.[7]



Kesimpulan

           Penggunaan metode forward chaining dengan proses penelusuran dapat digunakan untuk pembuatan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Diabetes Mellitus. Keluaran dari sistem adalah diagnose berupa tipe penyakit diabetes mellitus dengan disertai solusi untuk penyembuhan penyakit.





Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Kecerdasan Tiruan (AI) yang diampu oleh Mia Kamayani ST, MT . Prodi Teknik Informatika Fakultas Teknik UHAMKA.



Referensi



Skripsi “SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DIABETES MELLITUS MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING BERBASIS WEB”, Halim Perdana Putra-0903015063, 2014. https://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_melitus





Tidak ada komentar:

Posting Komentar